Halo, Pembaca yang Tak Pernah Berhenti Bertanya!
Sembilan artikel. Sembilan buku. Dan kalian masih setia menemani. Saya suka semangat kalian! Hari ini, kita akan masuk ke lautan yang paling keruh dalam sejarah manusia modern. Bukan lautan air, tapi lautan kontradiksi. Lautan di mana manusia modern—yang sedang sibuk menulis Deklarasi Kemerdekaan, Declaration of the Rights of Man, dan mencanangkan era Reason—masih dengan tenang membeli, menjual, dan memperbudak sesamanya.
Judul bukunya: “The Problem of Slavery in the Age of Revolution, 1770-1823” karya David Brion Davis.
The Problem of Slavery. Coba perhatikan judulnya. Davis tidak bilang “The Evil of Slavery” atau “The Cruelty of Slavery”. Ia bilang Problem. Seolah-olah perbudakan bukan sekadar dosa moral, tapi sebuah teka-teki sejarah yang rumit: Bagaimana mungkin di zaman yang paling menjunjung kebebasan, perbudakan justru mencapai puncaknya?
Buku ini adalah jilid kedua dari trilogi monumental Davis (jilid pertama: The Problem of Slavery in Western Culture, jilid ketiga: The Problem of Slavery in the Age of Emancipation). Dan percayalah, buku ini bukan bacaan santai di akhir pekan. Ia berat, padat, dan kadang membuatmu ingin membanting buku ke tembok karena frustrasi melihat kemunafikan manusia. Tapi justru di situlah letak kejeniusannya.
Siapkan hati yang lapang dan pikiran yang kritis. Karena dalam kurang lebih 5 menit ini, kita akan menyelami dilema paling memalukan dari era Revolusi—dan mungkin, melihat bayangan diri kita sendiri di dalamnya.
“All Men Are Created Equal” … Kecuali Mereka yang Tidak Putih
Oke, mulai dari mana ya? Davis memulai bukunya dengan sebuah pertanyaan provokatif:
“For some two thousand years men thought of sin as a kind of slavery. One day they would come to think of slavery as sin.”
Selama ribuan tahun, manusia menganggap “dosa” sebagai bentuk perbudakan spiritual. Tapi pada suatu masa—tepatnya di akhir abad ke-18—sesuatu berubah. Tiba-tiba, perbudakan fisik mulai dipandang sebagai dosa.
Pertanyaannya: Mengapa saat itu? Mengapa tidak seribu tahun sebelumnya?
Inilah yang membuat Davis berbeda dari sejarawan lain. Ia tidak mencari jawaban sederhana seperti “karena ada orang baik yang melawan” atau “karena ekonomi budak mulai melemah”. Ia justru menunjuk pada Akar yang lebih kompleks.
Coba bayangkan kontradiksi ini (Davis mengupasnya dengan sangat tajam):
- 1776: Amerika mendeklarasikan kemerdekaan dengan kalimat “All men are created equal”. Tepat saat itu, ada setengah juta budak di Amerika. Para penandatangan deklarasi itu sendiri—Thomas Jefferson, George Washington, Patrick Henry—adalah pemilik budak.
- 1789: Prancis meluncurkan Declaration of the Rights of Man and of the Citizen. “Man is born free and remains free and equal in rights.” Tiga tahun kemudian, Prancis memulihkan perbudakan di koloni-koloni Karibianya (setelah sempat dihapuskan oleh Revolusi).
- 1791-1804: Haiti, koloni budak paling brutal di dunia, memberontak. Mantan budak mengalahkan tentara Napoleon. Tapi daripada dirayakan, Haiti justru dikucilkan oleh negara-negara “bebas” lainnya. Kenapa? Karena membayangkan budak yang membebaskan diri sendiri… terlalu mengerikan bagi para pemilik budak di Amerika dan Eropa.
Davis menyebut ini sebagai “the boundaries of idealism” —batas-batas idealisme. Semua orang setuju bahwa “kebebasan” itu baik. Tapi pertanyaannya: Kebebasan untuk siapa?
Teori Paling Kontroversial Davis, Kapitalisme dan Anti-Perbudakan
Di sinilah Davis mulai bikin heboh dunia akademik.
Selama bertahun-tahun, banyak orang mengira bahwa gerakan anti-perbudakan (abolisionisme) lahir dari hati nurani murni—dari orang-orang baik yang tergerak oleh agama dan moralitas. Davis tidak membantah bahwa ada tulus. Tapi ia menambahkan lapisan analisis yang lebih tidak nyaman: gerakan anti-perbudakan juga melayani kepentingan kelas kapitalis yang sedang bangkit.
Coba simak logikanya:
- Pada akhir abad ke-18, kapitalisme industri mulai tumbuh. Para pemilik pabrik butuh pekerja yang bebas (bisa dipekerjakan dan dipecat, bisa dipindah-pindah sesuai kebutuhan pasar).
- Sistem perbudakan justru tidak efisien untuk kapitalisme modern: budak butuh biaya perawatan (makan, tempat tinggal, penjaga), tidak bisa dengan mudah di-“PHK” saat sedang lesu, dan yang terpenting: budak tidak punya uang untuk membeli barang-barang pabrik.
- Maka, ketika para abolisionis (banyak dari mereka adalah kelas menengah dan industrialis) menyerukan penghapusan perbudakan, mereka tidak hanya bermoral. Mereka juga membangun sistem ekonomi baru yang lebih menguntungkan bagi mereka.
Jangan salah paham: Davis tidak mengatakan bahwa para abolisionis itu munafik. Ia hanya menunjukkan bahwa keberhasilan gerakan anti-perbudakan tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa gerakan itu selaras dengan kepentingan kelas yang sedang naik daun.
Seorang kritikus Davis, Thomas Haskell, bahkan menyebut bahwa argumen Davis adalah “versi halus dari Marx”: perubahan kesadaran moral tidak terjadi di ruang hampa, tapi selalu terikat dengan perubahan material dan kekuasaan.
Apakah Davis benar? Tidak semua sejarawan setuju. Tapi satu hal pasti: ia membuat kita tidak bisa lagi merayakan kemenangan abolisionisme dengan sederhana. Kita dipaksa bertanya: Apakah moralitas pernah benar-benar murni? Ataukah ia selalu “dibeli” oleh kepentingan ekonomi dan politik?
Tiga Kekuatan yang Membentuk Perlawanan terhadap Perbudakan
Davis tidak hanya berfilsafat abstrak. Ia sangat konkret. Dalam bukunya (yang terdiri dari 11 bab padat), ia mengidentifikasi tiga kekuatan utama yang bersekutu—kadang harmonis, kadang bertentangan—dalam melawan perbudakan:
1. Kaum Quaker dan Evangelical, Hati Nurani Religius
Ini adalah garda terdepan. Davis mengakui bahwa orang-orang Quaker (sebuah denominasi Kristen non-konformis) adalah kelompok pertama yang secara sistematis menolak perbudakan, bahkan sejak akhir abad ke-17. Bagi mereka, perbudakan adalah dosa karena setiap manusia memiliki “cahaya batin” dari Tuhan—dan cahaya itu tidak bisa dimiliki oleh siapa pun. Mereka jugalah yang memelopori boikot gula dari perkebunan budak di Karibia.
Yang menarik, Davis tidak meromantisasi Quaker. Ia menunjukkan bahwa mereka juga punya keterbatasan: banyak Quaker kaya yang bisnisnya bergantung pada produk budak, dan mereka sering lebih nyaman melobi daripada melakukan aksi langsung yang radikal.
2. Para Filosof Pencerahan, Rasionalitas hingga ke Titik Absurd
Para pemikir seperti Rousseau, Montesquieu, dan Condorcet memberikan argumentasi sekuler melawan perbudakan. Mereka bilang: Jika semua manusia punya hak alamiah, bagaimana bisa perbudakan dibenarkan?
Tapi lagi-lagi, Davis menunjukkan kemunafikan. Montesquieu, dalam The Spirit of the Laws, menulis sindiran pedas tentang pembenaran perbudakan—tapi ia sendiri tidak pernah secara konsisten menuntut penghapusan. Dan banyak filosof Prancis memiliki saham di perusahaan-perusahaan yang bergantung pada perdagangan budak.
Yang lebih ironis: ketika Revolusi Prancis menghapus perbudakan tahun 1794, itu bukan karena tekanan filosofis, tapi karena kekacauan politik dan pemberontakan budak di Haiti yang tak terkendali. Begitu Napoleon berkuasa, penghapusan itu dengan mudah dicabut. Rasionalitas, ternyata, bisa kalah dengan kepentingan.
3. Kepentingan Kapitalis dan Buruh Bebas
Inilah poin paling kontroversial Davis. Ia berargumen bahwa abolisionisme mendapatkan daya dorong politiknya yang sesungguhnya ketika kepentingan moral bertemu dengan kepentingan ekonomi kelas kapitalis .
Coba lihat Inggris. Parlemen Inggris baru melarang perdagangan budak pada tahun 1807—setelah kampanye panjang William Wilberforce dan para abolisionis. Tapi Davis mencatat bahwa pada saat itu, perkebunan budak Inggris di Karibia sudah mulai mengalami stagnasi ekonomi, sementara pabrik-pabrik di Inggris membutuhkan pasar dan pekerja bebas.
Apakah kebetulan? Davis bilang tidak.
Mengapa Buku Ini Masih Penting Dibaca Hari Ini?
Oke, saya jujur. Buku ini terbit pertama kali tahun 1975. Ratusan buku lain tentang perbudakan sudah terbit sejak saat itu. Tapi saya tetap merekomendasikan The Problem of Slavery karena pertanyaan yang diajukannya masih sangat relevan:
- Kontradisi antara retorika kebebasan dan praktik ketidakadilan masih terus terjadi. Kita melihatnya dalam bagaimana negara-negara Barat mengkritik pelanggaran HAM di negara lain sambil mengabaikan ketidakadilan di dalam negeri sendiri (rasialisme sistemik, eksploitasi buruh migran, dll).
- Hubungan antara moralitas dan kepentingan ekonomi juga menjadi pertanyaan kunci zaman kita. Apakah kampanye lingkungan hidup benar-benar murni? Apakah gerakan HAM digital tidak dipengaruhi oleh kepentingan perusahaan teknologi? Davis mengajarkan kita untuk selalu curiga pada kesederhanaan narasi heroik.
- Pertanyaan tentang “siapa yang berhak atas kebebasan” juga masih bergema. Di era migrasi global, kita masih memperdebatkan: siapakah yang pantas menjadi warga negara? Siapa yang boleh masuk? Siapa yang harus ditolak? Pertanyaan yang dulu dipakai untuk membenarkan perbudakan, sekarang dipakai untuk membenarkan tembok dan patroli perbatasan.
Siapa yang Wajib Baca Buku Ini?
- Kamu yang ingin paham akar rasialisme di Amerika dan Eropa. Davis tidak hanya menulis sejarah; ia membedah bagaimana dan mengapa rasisme sistemik terbentuk.
- Kamu yang tertarik pada sejarah ide-ide (intellectual history). Ini adalah buku paling cerdas yang pernah saya baca tentang bagaimana gagasan moral—”kebebasan adalah hak asasi”—bisa ditafsirkan sangat berbeda oleh kelompok yang berbeda.
- Kamu yang lelah dengan narasi pahlawan vs penjahat yang sederhana. Davis tidak punya pahlawan murni. Jefferson kompleks. Wilberforce kompleks. Para budak yang memberontak juga kompleks. Semuanya manusia dengan kontradiksi.
- Kamu yang ingin menulis atau berdebat tentang keadilan sosial. Karena buku ini adalah masterclass tentang bagaimana menghubungkan struktur ekonomi, politik agama, dan filosofi moral dalam satu analisis yang utuh.
Kritik Jujur (Biar Tidak Kelihatan Saya Memuja Buta)
Buku ini tidak untuk pemula sejarah. Davis berasumsi bahwa kamu sudah paham peristiwa-peristiwa besar Revolusi Amerika, Revolusi Prancis, dan Revolusi Haiti. Jika tidak, siapkan Wikipedia di tab sebelah.
Juga, gaya penulisannya berat. Kalimat-kalimat panjang, banyak referensi ke pemikir yang mungkin asing bagi pembaca awam. Saya butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan buku ini—bukan karena tebal, tapi karena setiap halaman memaksa saya berpikir.
Kritik lain: Davis terlalu fokus pada elite intelektual dan politik. Kisah-kisah para budak sendiri—suara mereka, perlawanan mereka sehari-hari, budaya mereka—hampir tidak muncul di buku ini. Untuk itu, kamu perlu membaca buku-buku lain (misalnya karya Vincent Brown atau Saidiya Hartman).
Tapi sebagai analisis tentang mengapa dan bagaimana manusia modern mulai menganggap perbudakan sebagai masalah, buku ini masih tak tertandingi.
Nah, tadi kita sudah berenang di lautan kontradiksi manusia modern. Sekarang, saya lempar bola ke kalian:
- Menurutmu, apakah mungkin suatu masyarakat mengadvokasi kebebasan sambil mempertahankan praktik penindasan? Tanpa melihat ke AS abad ke-18, lihatlah ke masyarakat kita sendiri hari ini. Apakah kita juga punya “kontradiksi” serupa?
- Apakah kita bisa benar-benar memisahkan moralitas murni dari kepentingan ekonomi? Ataukah, seperti kata Davis, perubahan moral sering terjadi karena “ada sesuatu di dalamnya” bagi kelompok yang berkuasa?
- Dalam perjuangan sosial hari ini (kesetaraan gender, lingkungan hidup, hak buruh), apakah ada kemungkinan kita juga sedang dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi tertentu?
Saya ingin menutup dengan kutipan dari buku ini yang terus menghantui saya:
“The most ironic outcome of the Age of Revolution was that the same events that proclaimed the rights of man also perfected the machinery for his enslavement.”
Hasil paling ironis dari Era Revolusi adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang sama yang memproklamasikan hak asasi manusia juga menyempurnakan mesin untuk memperbudaknya.
Terima kasih sudah bertahan di artikel yang (jujur) paling tidak nyaman ini. Tapi kadang, ketidaknyamanan adalah awal dari kedewasaan. Sampai jumpa di petualangan sejarah berikutnya.
